Tradisi Ma’pasonglo merupakan salah satu upacara kematian yang diadakan oleh masyarakat Suku Toraja, dimana puluhan anak muda bergotong-royong dalam mendorong jenazah dalam tongkonan kecil. Teriakan mereka yang kadang kala penuh dengan humor dan sengaja menciptakan semangat yang tinggi untuk prosesi tersebut. Tradisi ini juga menjadi momen penghormatan terakhir bagi orang yang meninggal, seperti yang dialami oleh almarhumah Dortje Tandi Kalo’.
Pesta Rambu Solo tidak hanya sekedar upacara kematian, namun juga menjadi perekat antargenerasi bagi keluarga yang ditinggalkan. Para keluarga dan keturunan yang berada di berbagai daerah seperti Kalimantan dan Pulau Jawa sengaja hadir dalam acara ini untuk melanjutkan tradisi nenek Dortje. Meskipun melibatkan biaya dan persiapan yang besar, namun masyarakat Toraja menganggapnya sebagai investasi yang bernilai lebih dari sekadar materi.
Selain menjadi momen penghormatan terakhir, Pesta Rambu Solo juga menjadi pemandangan akrab di mata pengunjung. Solidaritas dan kebersamaan yang ditunjukkan oleh para keturunan dan keluarga menjadi kekuatan utama dalam mempertahankan tradisi ini. Meskipun berada jauh dari kampung halaman, seperti yang dialami oleh Novi Cristina yang merantau ke Tarakan selama 12 tahun, namun tradisi ini tetap dipegang teguh sebagai bagian dari identitas dan warisan budaya yang harus dilestarikan.
Proses pelaksanaan Pesta Rambu Solo melibatkan berbagai tahapan seperti Ma’bule Tomate, pertarungan kerbau, dan prosesi lainnya yang dilakukan dengan penuh kasih sayang dan kebersamaan. Meski menghabiskan banyak biaya dan waktu, namun masyarakat Toraja memandangnya sebagai suatu kebutuhan yang tak ternilai harganya. Kepercayaan ini telah ditanamkan sejak dulu oleh leluhur mereka, sehingga tradisi ini terus terjaga dan terus dilakukan secara berkala untuk menghormati nenek mereka.
Nenek Dortje dianggap menjadi simbol keteguhan keluarga dengan karakter tegas namun sentuhan kasih sayangnya selalu terasa. Chomaco Madethen Sampebulu’ yang juga cucu dari anak kelima Nenek Dortje, mengenang almarhumah sebagai kekuatan solidaritas keluarga yang selalu memberikan kasih sayang kepada mereka. Kesemua aspek ini adalah bagian dari Warisan budaya Toraja yang harus terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.












