Berita  

Joko Anwar: Komedi dan Horor Menyatukan Bangsa

Sutradara Joko Anwar membagikan insight menarik tentang film terbarunya, “Ghost in the Cell” yang diproduksi bersama Come And See Pictures. Dalam konferensi pers di Jakarta, Joko menekankan pentingnya kedalaman karakter dan relevansi sosial dalam film tersebut. Dia membagikan bahwa setiap karakter dalam film memiliki riwayat hidup yang sangat detail, memberikan kesempatan bagi para pemain untuk mengenal karakter mereka secara mendalam. Contoh yang diungkapkan adalah karakter Tokek yang diperankan oleh Aming, yang meskipun mungkin terlihat jahat, sebenarnya memiliki latar belakang trauma yang memengaruhi tindakannya.

Keunikan produksi film ini juga terlihat dari keterlibatan kru teknis sebagai aktor, seperti sinematografer Jaisal (Ical) Tanjung dan penyanyi lagu “The Rising Man,” Tony Merle. Setiap film produksinya memiliki dua versi video pratinjau yang dimainkan oleh para aktor dan kru, memberikan panduan visual yang kuat selama proses produksi. Joko Anwar juga menjelaskan pandangannya tentang genre horor komedi yang ia usung, menyatakan bahwa komedi sebenarnya dapat menajamkan tensi dalam cerita. Dia juga percaya bahwa genre horor adalah identitas nasional yang dapat menyatukan keragaman suku di Indonesia.

Meskipun filmnya menyimpan kritik sosial, Joko Anwar lebih suka menyebut karyanya sebagai refleksi dari hal-hal yang relevan dalam masyarakat. Setelah kesuksesan film horornya di Festival Berlinale, Joko Anwar mengungkapkan bahwa proyek masa depannya akan mengambil genre romansa. Mengenai judul film “Ghost in the Cell,” Joko menjelaskan bahwa penggunaan bahasa Inggris dalam judul tersebut adalah masalah selera, tetapi ada versi bahasa Indonesia dengan judul “Hantu di dalam Penjara.” Proyek mendatangnya yang berjudul “The Charms of Broken Things” telah diumumkan dan sedang dikembangkan.

Source link