Perbincangan tentang susu dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menimbulkan refleksi tentang pemahaman gizi dalam kebijakan makanan. Media sosial menjadi sorotan karena kontroversi terkait susu UHT yang diklaim mengandung 86% air dan hanya 1% bahan susu. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang kualitas gizi produk tersebut dan dampaknya pada kebutuhan nutrisi anak-anak. Meskipun secara hukum produk tersebut legal, namun dari segi nutrisi jauh berbeda dengan susu cair murni.
Publik diingatkan untuk membedakan antara legalitas produk dan kualitas gizi yang diperlukan oleh tubuh anak. Pentingnya pemahaman bahwa kandungan rendah susu juga berpengaruh pada asupan protein, kalsium, dan mikronutrien alami yang kurang. Program Makan Bergizi Gratis seharusnya bukan hanya soal distribusi makanan, tetapi juga pesan tentang makanan sehat. Penggunaan kental manis sebagai susu anak-anak dapat membentuk preferensi rasa yang tidak sehat.
Informasi terbuka tentang komposisi produk penting agar orang tua dan pengelola program dapat membuat keputusan yang tepat. Selain itu, program seperti MBG memiliki potensi untuk mendidik masyarakat tentang gizi. Masyarakat perlu memahami bahwa gizi bukan hanya angka dalam tabel tetapi investasi jangka panjang untuk kesehatan generasi mendatang. Dengan menjadikan perdebatan ini sebagai pembelajaran bersama, dapat memperbaiki kualitas implementasi program dan memahami pentingnya kualitas dalam kebijakan pangan.


















