China berkomitmen untuk mengikuti hasil konferensi perubahan iklim PBB COP30 di Belem, Brasil, serta menerapkan Perjanjian Paris sebagai panduan, sesuai dengan pernyataan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Mao Ning. Konferensi COP30 di Belem, Brasil, dihadiri oleh 195 negara dan menghasilkan kesepakatan akhir yang dinamakan Global Mutirão. Meskipun demikian, beberapa pihak mengkritik kesepakatan tersebut karena tidak menyebut secara jelas sumber-sumber krisis iklim seperti minyak, gas, dan batu bara.
Dokumen hasil konferensi tersebut juga kurang memberikan langkah konkret untuk mengurangi penggunaan sumber daya tersebut. Meskipun demikian, China berkomitmen untuk bekerja sama dengan pihak lain dalam mengimplementasikan hasil konferensi dan memajukan kerja sama global untuk menghadapi perubahan iklim. Delegasi China yang dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri Ding Xuexiang mengusulkan tiga konsep dalam negosiasi tersebut, yaitu tetap pada arah yang benar, menerjemahkan komitmen iklim menjadi tindakan nyata, dan meningkatkan keterbukaan serta kerja sama.
Meskipun terdapat jurang antara target untuk menahan pemanasan global di bawah 1,5 derajat Celsius dan realitas saat ini, China dan negara-negara lain sepakat untuk memperdalam kerja sama dalam upaya mengatasi perubahan iklim. Meskipun ada perdebatan sengit terkait peta jalan transisi energi yang menjauh dari minyak, gas, dan batu bara, wakil China menegaskan pentingnya berupaya untuk melakukan yang terbaik dalam tata kelola iklim global di dekade berikutnya. Artinya, China berkomitmen untuk memperkuat kolaborasi dan kerja sama global demi mencapai tujuan bersama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global.














