Berita  

Gagap Sastra di Ruang Digital: Tantangan dan Peluang

Intimidasi terhadap diskusi buku Memburu Muhammad karya Feby Indirani di Pekan Sastra Bogor menunjukkan bahwa tekanan terhadap karya sastra belum berhenti, meski ruang penyebaran gagasan telah berubah. Diskusi tersebut dibatalkan setelah mendapat intimidasi dari sekelompok massa.

Peristiwa itu memperlihatkan kembali bagaimana ketakutan terhadap gagasan dapat berujung pada represi terhadap buku dan ruang-ruang pembicaraan tentangnya. Masalahnya bukan semata-mata keberadaan sebuah teks, melainkan kemungkinan munculnya cara pandang baru yang dibawa oleh teks tersebut.

Represi yang Berulang

Dalam sejarah Indonesia, pembredelan karya-karya Pramoedya Ananta Toer pada masa Orde Baru kerap dijadikan contoh paling fenomenal mengenai pelarangan buku. Namun, kasus tersebut bukan satu-satunya bentuk tekanan terhadap karya dan gagasan. Berbagai peristiwa lain memperlihatkan bahwa kecemasan terhadap pemikiran yang berbeda dapat mengambil bentuk serupa: membatasi peredaran buku, menghentikan pembicaraan, atau menekan pihak yang terlibat.

Pembatalan diskusi Memburu Muhammad memperlihatkan bahwa pola tersebut masih dapat muncul dalam situasi yang berbeda. Jika pada masa lalu represi terhadap buku berlangsung melalui mekanisme kekuasaan, dalam kasus ini tekanan hadir melalui intimidasi massa yang membuat sebuah agenda sastra tidak dapat dilanjutkan.

Novel itu sendiri menggunakan kata “memburu” sebagai ikhtiar sungguh-sungguh untuk meraih sifat-sifat mulia. Makna tersebut menempatkan “memburu” bukan sebagai tindakan menghina, melainkan sebagai usaha untuk mencapai kualitas moral yang baik. Pemaknaan itu menjadi bagian dari isi karya yang semestinya dibaca secara utuh, bukan disimpulkan hanya dari satu kata atau potongan informasi.

Gagap Sastra di Ruang Digital

Persoalan pemahaman terhadap teks menjadi semakin rumit di era media sosial. Platform digital mendorong penyebaran informasi secara massal, sementara kebiasaan membaca secara utuh semakin jarang. Dalam situasi seperti itu, potongan judul, istilah, atau kalimat dapat lebih cepat beredar dibandingkan keseluruhan gagasan yang dibangun sebuah karya.

Kondisi tersebut membuka ruang bagi apa yang disebut sebagai “gagap sastra”. Istilah ini menggambarkan ketidakmampuan memahami karya secara menyeluruh, termasuk membedakan antara kata, konteks, maksud, dan keseluruhan isi teks. Ketika pembacaan berhenti pada bagian tertentu, karya sastra rentan dipahami secara keliru.

Dalam konteks itu, pembatalan diskusi bukan hanya menyangkut satu agenda di Pekan Sastra Bogor. Peristiwa tersebut juga memperlihatkan rapuhnya ruang dialog ketika perbedaan pemahaman terhadap buku dijawab dengan intimidasi. Alih-alih memberi kesempatan bagi gagasan untuk dibaca dan diperdebatkan, tekanan justru menghentikan proses pembicaraan sebelum berlangsung.

Source link