Berita  

Jurnalis Sultra Gelar Doa untuk Pewarta Hilang di Selat Sunda

Lima hari tanpa kabar dari lima pewarta foto yang meliput erupsi Gunung Anak Krakatau mendorong jurnalis se-Sulawesi Tenggara menggelar doa bersama di Kendari, Sabtu malam. Aksi solidaritas itu ditujukan untuk mendukung upaya pencarian sekaligus menguatkan keluarga yang masih menanti kepastian.

Kelima jurnalis yang hilang kontak di Selat Sunda tersebut adalah Muhammad Bagus Khoirunnas dari Antara Foto, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency, serta Donal Husni yang bekerja sebagai jurnalis lepas. Mereka tidak dapat dihubungi sejak Senin ketika menuju Gunung Anak Krakatau untuk menjalankan tugas peliputan.

Dalam kegiatan itu, para jurnalis Sultra memegang foto rekan-rekan mereka sembari memanjatkan doa. Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari, Nursadah, mengatakan solidaritas tersebut juga menjadi dukungan bagi tim pencarian agar terus berupaya menemukan keberadaan para pewarta.

“Tentu kami berharap lima kawan kita itu bisa ditemukan dengan selamat dan kalaupun tidak, kita menerima bisa mengetahui titik keberadaannya,” ujar Nursadah.

Pengingat tentang keselamatan peliputan

Selain mendoakan keselamatan kelima jurnalis, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi bagi pekerja media di Sultra mengenai risiko peliputan. Nursadah mengingatkan pentingnya mematuhi standar operasional prosedur sebelum turun ke lapangan, terutama ketika meliput bencana alam atau peristiwa lain yang berbahaya.

Menurut dia, jurnalis memang kerap berhadapan dengan situasi berisiko dalam menjalankan tugas. Namun, kebutuhan menyampaikan informasi kepada publik tidak boleh membuat pewarta mengabaikan keselamatan. “Ini sesuai jargon kita di wartawan dan jurnalis bahwa tidak ada berita seharga nyawa,” katanya.

AJI juga terus mendorong perusahaan media dan organisasi profesi jurnalis menyediakan pelatihan bagi wartawan yang biasa ditugaskan ke lokasi bencana. Pelatihan tersebut dinilai penting untuk membekali pekerja media menghadapi risiko di lapangan dan mencegah kejadian serupa terulang.

Risiko di balik kerja pewarta foto

Kepala Perum LKBN ANTARA Biro Sultra, Zabur Karuru, menyoroti posisi pewarta foto yang kerap berada di garis depan sebuah peristiwa. Tugas mereka menuntut kehadiran langsung pada waktu yang tepat untuk merekam momen yang tidak dapat diwakilkan.

“Di antara berbagai profesi jurnalistik, ada satu sosok yang bekerja tanpa banyak kata namun bicara lewat setiap bidikan lensanya, yaitu pewarta foto. Ia hadir di garis depan peristiwa, kadang lebih dulu sampai daripada tim liputan lainnya,” ujar Zabur.

Ia mengatakan pekerjaan pewarta foto kerap terlihat sederhana, padahal mengandung risiko nyata. Mereka dapat berada di tengah kerumunan demonstrasi, dekat garis evakuasi bencana, hingga kawasan gunung berapi aktif untuk menghasilkan gambar yang menjadi mata publik di lokasi kejadian.

Zabur mengenal lima jurnalis yang hilang kontak itu sebagai pekerja lapangan yang ulet dan militan. Menurut dia, mereka berangkat dengan semangat yang sama seperti pewarta foto lain, yakni membawa pulang gambar bagi masyarakat.

“Hari ini kita berkumpul bukan untuk berduka, melainkan untuk berdoa: memohon keselamatan dan pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa agar mereka segera ditemukan dalam keadaan selamat,” tuturnya.

Ia turut mengajak seluruh jurnalis mempertahankan dukungan moral dan doa bagi para pewarta yang hilang, keluarga mereka, serta petugas pencarian. Zabur berharap doa bersama itu menjadi kekuatan bagi tim SAR yang terus bekerja dan penguat bagi keluarga yang menunggu kabar.

Source link