Rektor Universitas Islam (UI) Cordoba Banyuwangi, Prof. Dr. Agus Trihartono, memperkenalkan konsep Food Mobility dalam forum akademik internasional di Malaysia. Dalam acara Global Classroom on Human Migration yang diselenggarakan oleh Faculty of Humanities and Social Sciences (FUHA), Universiti Sultan Zainal Abidin (UNISZA), Agus menyampaikan kuliah umum berjudul Beyond Migration: Food Mobility, Colonial Legacies, and Gastrodiplomacy in Asia.
Perspektif Baru dalam Studi Migrasi
Dalam paparannya, Agus mengajak peserta forum untuk melihat isu migrasi dari sudut pandang yang berbeda. Ia menyampaikan bahwa makanan juga memiliki perjalanan lintas negara yang sarat makna sejarah dan budaya, selain perpindahan manusia yang kerap menjadi fokus utama dalam pembahasan migrasi.
Menurut Agus, mobilitas makanan tidak terlepas dari sejarah migrasi manusia. Ia memberikan contoh bagaimana makanan India seperti kari menjadi hidangan populer di Inggris berkat diaspora India di sana. Begitu pula dengan kekayaan kuliner Malaysia yang berasal dari percampuran budaya Melayu, Tionghoa, India, dan Arab.
Pengaruh Kolonialisme dan Diplomasi Kuliner
Selain membahas migrasi, Agus juga menyoroti pengaruh kolonialisme terhadap perkembangan kuliner di berbagai negara. Ia mengambil contoh Rijsttafel, tradisi makan jamuan yang berkembang di Hindia Belanda pada masa penjajahan Belanda. Melalui contoh tersebut, Agus menjelaskan bahwa makanan tidak hanya bergerak bersama migran, tetapi juga tersebar melalui relasi kekuasaan dan sejarah kolonial.
Pada kesempatan forum tersebut, Agus juga mengenalkan konsep Food Mobility Model yang menjelaskan hubungan antara migrasi manusia, mobilitas makanan, warisan kolonial, dan diplomasi kuliner dalam konteks hubungan antarbangsa. Ia berharap konsep ini dapat memperkaya studi migrasi internasional yang selama ini cenderung fokus pada perpindahan manusia.


















