Pada sekitar pukul 18.30 WIB, polisi mulai membubarkan massa aksi yang mayoritas dihadiri oleh pelajar. Sebanyak seratus anggota TNI dan Polri masih bertugas di sekitar Kompleks Parlemen. Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad, menyatakan bahwa DPR RI menghormati aksi unjuk rasa masyarakat di depan Gedung MPR, DPR, DPD RI, Jakarta. Ia mengatakan anggota parlemen akan melakukan introspeksi dan mempertimbangkan tuntutan dari massa aksi. Meskipun demikian, Dasco menekankan pentingnya massa aksi untuk tetap tertib dan mematuhi aturan hukum. Ribuan masyarakat berkumpul di depan dan belakang gerbang pintu Kompleks MPR, DPR, DPD RI untuk menyampaikan sejumlah tuntutan, termasuk transparansi gaji anggota DPR, pembatalan tunjangan rumah anggota DPR, dan penolakan rencana kenaikan gaji anggota DPR.
Selama aksi demonstrasi, polisi telah menggunakan water canon dan gas air mata untuk membubarkan massa aksi. Terjadi ricuh antara polisi dan demonstran, bahkan beberapa wartawan menjadi korban dari kekerasan polisi. Meskipun keadaan sempat memanas, aksi demonstrasi terus berlanjut hingga menjelang malam hari. Polisi akhirnya membubarkan massa aksi yang didominasi oleh pelajar sekitar pukul 18.30 WIB dengan masih ada ratusan anggota TNI dan Polri yang bertugas di sekitar Kompleks Parlemen untuk mencegah kemungkinan adanya gelombang massa yang kembali. Meskipun massa aksi telah membubarkan diri perlahan, polisi belum membuka akses jalan untuk kendaraan, sehingga rekayasa lalu lintas masih diberlakukan di sekitar kawasan Jalan Gatot Subroto yang mengarah ke Slipi dan Grogol.


















