Olahraga panahan di Surabaya menghadapi ironi yang mengecewakan di tengah gemerlap medali emas. Beberapa atlet dihargai dengan bonus dan pengakuan, sementara yang lain harus menanggung sendiri biaya perjuangan mereka. Kritik pedas pun dilontarkan oleh Kurnia Cahyanto, seorang pelatih panahan yang merasa perlakuan tidak adil tersebut. Timnya yang menyumbang empat dari lima medali emas panahan untuk Jawa Timur harus merogoh kocek sendiri untuk berpartisipasi dalam Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas) VIII 2025 di Nusa Tenggara Barat. Diskriminasi finansial yang mereka alami menjadi bukti nyata bahwa adil tidaknya perlakuan terhadap atlet masih dipertanyakan. Tentu saja, hal ini mencerminkan dualisme dalam struktur olahraga nasional yang perlu diperbaiki. Meskipun KORMI berjuang untuk mendapatkan pengakuan yang pantas, atlet dan pelatih yang berjuang di lapangan juga layak mendapatkan perhatian. Menanggapi kritik ini, Ketua KORMI Kota Surabaya, Muhammad Sunar, mengajak publik untuk memahami kondisi KORMI yang masih dalam fase perjuangan. Meski begitu, penting bagi semua pihak untuk memastikan bahwa setiap atlet dan pelatih dihargai dan didukung dengan layak, tanpa meninggalkan mereka dalam keterpurukan.
Ironi Medali Emas: Keadilan Atlet di Kota Pahlawan
Read Also
Recommendation for You

Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Bambang Haryo Soekartono, mengunjungi kediaman almarhum Suhardi,…

Ribuan peserta memadati lokasi acara trail run bareng Pekalen Rafting yang digelar di Desa Pesawahan,…

Polisi telah menangkap dua pria dan seorang perempuan yang diduga membawa senjata tajam untuk tawuran…

M. Shadiq Pasadigoe menghadiri kegiatan Sosialisasi Daerah Pemilihan (Sosdapil) di Batusangkar, dimana upaya menjaga karakter…

Polisi telah berhasil mengamankan 16 anak yang diduga terlibat dalam insiden tawuran yang menyebabkan kematian…













