Gubernur Bali Minta Bendesa Adat Cegah Pengeroyokan Terulang
Gubernur Bali, Wayan Koster, menegaskan pentingnya peran bendesa atau pemimpin adat dalam mencegah aksi pengeroyokan yang mengakibatkan kematian seorang terduga pencuri ayam di Kabupaten Tabanan.
Koster menyampaikan keinginannya untuk berkomunikasi dengan bendesa di daerah terkait serta bendesa lainnya agar dapat memberikan pemahaman kepada warganya untuk tidak mengulangi tindakan kekerasan serupa di masa depan.
Peran Desa dalam Menjaga Keamanan dan Ketertiban
Menurut Koster, peristiwa pengeroyokan di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kabupaten Tabanan harus dihadapi dengan sikap tenang dan mengutamakan kemanusiaan serta proses hukum yang sesuai.
Gubernur Bali menekankan bahwa menjaga keamanan dan ketertiban bukanlah hanya tanggung jawab aparat, tetapi juga memerlukan kesadaran masyarakat untuk menghormati proses hukum serta tidak menyebarkan informasi yang belum diverifikasi.
Penanganan Kasus Pengeroyokan
Koster menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus pengeroyokan tersebut kepada pihak kepolisian sesuai dengan kewenangannya. Saat ini, lima orang yang diduga terlibat dalam pengeroyokan telah diamankan dan sedang menjalani proses hukum.
Meskipun ada dugaan faktor ekonomi yang melatarbelakangi tindakan pencurian, Koster menegaskan bahwa hal tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan. Pemerintah telah menjalankan program bantuan sosial dan pengentasan kemiskinan untuk membantu masyarakat.
Pembangunan dan pemberdayaan ekonomi harus dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat untuk mengatasi persoalan sosial secara komprehensif dan memperkuat ketahanan di tingkat desa.


















