Nilai Tukar Rupiah Melemah Menjadi Rp17.859 per Dolar AS
Pada penutupan perdagangan hari Selasa, kurs rupiah terhadap dolar AS mengalami pelemahan sebesar 16 poin atau 0,09 persen, menjadi Rp17.859 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.843 per dolar AS.
Pelaku Pasar Pantau Kebijakan Moneter AS
Menurut Muhammad Amru Syifa dari Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), pelemahan rupiah terjadi karena pelaku pasar masih memperhatikan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Meskipun terjadi pelemahan, namun sentimen global mulai menunjukkan perbaikan sehingga tidak diperkirakan terjadi pelemahan yang signifikan.
Indeks Dolar AS (DXY) saat ini bertahan di sekitar level 101,00 karena Federal Reserve Amerika Serikat diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama. Hal ini dipengaruhi oleh sikap hawkish Ketua The Fed, Kevin Warsh, dan proyeksi suku bunga terbaru yang menaikkan keyakinan pasar tentang kemungkinan kenaikan suku bunga di masa mendatang.
Perkembangan Positif dalam Perundingan AS-Iran
Perkembangan positif dalam perundingan antara Amerika Serikat dan Iran juga turut membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dan tekanan inflasi global. Hal ini juga membuat penguatan dolar tertahan dalam beberapa waktu terakhir.
Dari dalam negeri, rencana penerbitan Panda Bond menggunakan skema Local Currency Transaction (LCT) dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka menengah. Namun, kebutuhan valuta asing untuk kegiatan impor dan pembayaran kewajiban luar negeri masih menjadi faktor pembatas penguatan rupiah.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mengalami pelemahan di level Rp17.868 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.819 per dolar AS.


















