Perempuan sebagai Motor Penggerak Perubahan Lingkungan
Jakarta (ANTARA) – Dharma Wanita Persatuan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memberikan pandangan bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan lingkungan. Dalam acara International Environment Technology and Innovation Expo & Conference (Invirotech) 2026 di Jakarta, Penasehat DWP KLH/BPLH, Alia Febyani Prabandari Jumhur Hidayat mengungkapkan bahwa perempuan memiliki kapasitas dan akses pendidikan yang memadai untuk menjadi agen perubahan di masyarakat.
Alia menekankan bahwa perempuan memiliki pengaruh besar dalam kehidupan keluarga dan komunitas, sehingga dianggap sebagai motor penggerak berbagai gerakan lingkungan. Salah satu fokus dalam talkshow bertajuk “Green Beauty Lifestyle: Bijak Memilih Produk Kebutuhan Perempuan yang Ramah Lingkungan” adalah peran perempuan dalam menyokong gaya hidup berkelanjutan, pengelolaan sampah yang bertanggung jawab, serta pemanfaatan teknologi hijau dalam kehidupan sehari-hari.
Potensi Perempuan dalam Edukasi Lingkungan
Alia juga menyoroti peran organisasi perempuan seperti Dharma Wanita Persatuan, Kongres Wanita Indonesia (Kowani), dan berbagai komunitas perempuan dalam mengedukasi masyarakat tentang lingkungan. Ia turut menekankan bahwa keberhasilan program bank sampah di Indonesia tidak lepas dari partisipasi aktif perempuan yang mencapai lebih dari 50 persen.
Untuk memperluas program bank sampah hingga merambah ke lingkungan permukiman, sekolah, kampus, dan komunitas masyarakat, diperlukan edukasi dan kampanye lingkungan yang berkelanjutan. KLH/BPLH juga mendorong keterlibatan generasi muda melalui pendidikan lingkungan di sekolah serta kolaborasi dengan influencer melalui media sosial.
Peran Perempuan dan Pelestarian Lingkungan
Direktur Mitigasi Perubahan Iklim Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon, Haruki Agustina menyampaikan bahwa perempuan memiliki peran kunci sebagai garda terdepan dalam gerakan pelestarian lingkungan. Ia menekankan bahwa perempuan, sebagai pilar utama keluarga, dapat menjadi agen perubahan yang efektif dalam membangun budaya peduli lingkungan.
Haruki menjelaskan bahwa memilah sampah dari sumbernya merupakan langkah sederhana namun efektif dalam memupuk budaya peduli lingkungan. Perubahan perilaku yang dimulai dari rumah tangga dapat menular kepada anggota keluarga, tetangga, hingga masyarakat luas.


















