5 Tanda Burnout yang Harus Diwaspadai agar Tidak Diabaikan

Burnout: Gejala dan Tanda yang Perlu Diwaspadai

Burnout atau kelelahan kerja menjadi masalah yang semakin banyak dialami pekerja di berbagai negara. Menurut laporan yang diterbitkan oleh TELUS Mental Health Index, lebih dari tiga dari lima pekerja mengalami burnout. Bahkan, hampir satu dari tujuh pekerja mengaku mengalami burnout pada tingkat yang sangat tinggi.

Burnout bukan sekadar merasa lelah setelah bekerja seharian. Sindrom ini muncul akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola dalam jangka panjang.

Gejala Burnout yang Perlu Diwaspadai

1. Kelelahan yang Tak Kunjung Membaik

Burnout ditandai dengan kelelahan yang lebih dalam dan tidak kunjung membaik meski sudah beristirahat. Seseorang yang mengalami burnout sering kali bangun tidur dalam kondisi tetap lelah meskipun telah tidur cukup.

Kelelahan ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mental dan emosional. Akibatnya, seseorang kehilangan energi untuk berolahraga, bersosialisasi, atau melakukan hobi yang sebelumnya disukai.

2. Mulai Membenci Pekerjaan dan Kehilangan Kepedulian

Gejala burnout yang paling jelas adalah munculnya rasa enggan terhadap pekerjaan yang sebelumnya masih dapat dinikmati. Perasaan tersebut dapat berkembang menjadi sikap sinis, apatis, hingga kehilangan kepedulian terhadap hasil pekerjaan.

WHO menyebut kondisi ini sebagai meningkatnya jarak mental terhadap pekerjaan, yang sering ditandai dengan munculnya sikap negatif dan sinisme terhadap tugas maupun lingkungan kerja.

3. Konsentrasi dan Kinerja Menurun

Burnout juga dapat memengaruhi fungsi kognitif seseorang. Tanda-tandanya antara lain sulit berkonsentrasi, sering lupa, lebih banyak melakukan kesalahan, serta membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaan.

Banyak pekerja yang mengalami burnout merasa kemampuan mereka menurun drastis. Mereka mulai meragukan kompetensi diri sendiri dan merasa tidak lagi mampu memenuhi tuntutan pekerjaan.

Penanganan Burnout

Burnout tidak dapat diatasi hanya dengan mengabaikannya atau memaksakan diri untuk terus bekerja. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan fisik, mental, hingga produktivitas kerja.

Langkah-langkah penanganan yang tepat dan mencari bantuan ketika diperlukan menjadi kunci untuk menjaga kesehatan mental sekaligus mempertahankan produktivitas kerja secara berkelanjutan.

Source link