Berita  

Bagaimana Cuaca dan Logistik Mempengaruhi Harga Cabai

Kenaikan Harga Cabai Dipicu Oleh Faktor Cuaca dan Logistik

Jakarta – Peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian, menyoroti fluktuasi harga cabai belakangan ini yang dipicu oleh faktor kombinasi cuaca ekstrem dan biaya logistik distribusi hortikultura.

Menurut Eliza, curah hujan tinggi di beberapa sentra produksi utama telah meningkatkan kelembapan, yang kemudian memicu serangan hama dan penyakit tanaman. Hal ini menyebabkan penurunan tajam dalam volume dan kualitas hasil panen di tingkat petani, yang menjadi faktor utama kenaikan harga cabai.

Permintaan Tinggi Jelang Idul Adha

Selain anomali cuaca, peningkatan harga cabai juga dipicu oleh lonjakan permintaan masyarakat menjelang Idul Adha. Permintaan yang tinggi ini bertambah parah akibat kelangkaan pasokan yang semakin meningkat.

Data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional menunjukkan bahwa harga cabai rawit merah sempat mencapai Rp84.400 per kilogram sebelum kembali turun ke Rp68.000 per kilogram. Perubahan harga yang cepat ini mencerminkan sensitivitas tinggi komoditas hortikultura terhadap cuaca, distribusi, dan kondisi pasokan pasar.

Faktor Logistik Menjadi Penyebab Utama

Eliza juga menyebutkan bahwa gangguan dalam distribusi juga turut memperbesar tekanan harga hortikultura di tingkat konsumen. Lonjakan biaya operasional seperti tarif tol dan harga suku cadang ikut meningkatkan biaya distribusi, sehingga mempengaruhi harga jual cabai di pasar.

Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk menjaga stabilitas harga pangan, terutama pada komoditas hortikultura yang rentan terhadap fluktuasi harga akibat cuaca dan gangguan distribusi. Penguatan distribusi pangan dan sistem logistik hortikultura menjadi kunci dalam menjaga stabilitas harga pangan di tengah periode cuaca ekstrem.

Source link