Berita  

Pesisir Berwarna Melalui Kampung Nelayan Merah Putih

Desa Samber-Binyeri di Kabupaten Biak Numfor, Papua, awalnya adalah sebuah kampung nelayan tradisional yang sederhana tanpa fasilitas modern seperti dermaga kapal, cold storage, atau tempat penyimpanan hasil tangkapan ikan. Namun berkat intervensi pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), kampung ini telah mengalami transformasi besar menjadi kampung nelayan modern yang menjadi contoh kemajuan pesisir di Indonesia.

Dengan investasi sebesar Rp22,1 miliar, pemerintah membangun dermaga tambatan kapal, pabrik es, sentra kuliner, cold storage, pangkalan pendaratan ikan, kios perbekalan, dan dockyard untuk mendukung aktivitas perikanan yang dilakukan oleh 160 nelayan di Desa Samber-Binyeri. Kini, kampung ini menghasilkan sekitar 100-200 kg ikan per perahu per hari, dengan sebagian besar hasil tangkapannya (70%) dijual di pasar ikan lokal.

Sebelum modernisasi, pendapatan warga desa ini hanya sekitar Rp3 juta per bulan, namun setelah kampung nelayan ini diresmikan, pendapatan nelayan meningkat menjadi Rp6 juta per bulan. Koperasi Produsen Samber Binyeri Maju bertanggung jawab atas pengelolaan aset kampung nelayan ini, dengan berbagai unit usaha seperti pabrik es, balai pelatihan, kios persediaan, dan cold storage.

Kampung nelayan model ini telah menjadi inspirasi bagi program Kampung Nelayan Merah Putih yang diluncurkan pemerintah untuk membangun 100 kampung nelayan modern pada tahun 2025. Dari 12.968 desa tepi laut di Indonesia, sekitar 1.300 desa memiliki potensi untuk menjadi lokasi program ini.

Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menetapkan 65 lokasi untuk pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih tahap pertama, dengan target 100 kampung nelayan selesai dibangun akhir tahun ini. Setiap lokasi membutuhkan anggaran sekitar Rp20,6 miliar dan merupakan langkah awal dalam rencana pemerintah untuk membangun 1.100 kampung nelayan modern di seluruh Indonesia hingga tahun 2028.

Source link