Menelusuri Fenomena ‘Shrekking’: Tren Pacaran yang Berpotensi Merugikan

Istilah shrekking adalah tren pacaran yang viral di media sosial belakangan ini. Tidak seperti pujian, istilah ini merujuk pada praktik sengaja berpacaran dengan seseorang dianggap di bawah standar kita untuk mendominasi hubungan. Shrekking terinspirasi dari karakter Shrek dalam film animasi DreamWorks yang tadinya dianggap tidak menarik. Tujuannya adalah agar pasangan yang dianggap tidak menarik itu bisa memujanya tanpa menyakiti hatinya.

Fenomena ini sebenarnya sudah ada sejak dulu, namun sekarang menjadi trend di media sosial. Banyak ahli dan konsultan kencan seperti Bruce Y. Lee, Rae Weiss, dan Alexis Germany Fox memberikan pandangan tentang shrekking. Mereka berpendapat bahwa tren ini muncul karena banyak orang merasa frustrasi dengan norma kencan modern yang tidak jelas.

Dampak buruk dari shrekking juga dibahas, seperti mengubah cara berinteraksi dengan pasangan dan menciptakan pola kendali yang merugikan. Meskipun shrekking sering disalahartikan, sebenarnya fenomena ini merupakan bentuk perlindungan diri dari penilaian dan sikap negatif orang lain.

Ahli kencan dan psikolog seperti Jennie Rosier dan Forbes pun menyampaikan bahwa shrekking bisa berdampak negatif dalam hubungan jangka panjang. Disebutkan juga bahwa menilai seseorang berdasarkan standar tertentu dalam dunia kencan tidaklah sederhana karena setiap individu memiliki pandangan yang berbeda.

Selain itu, perubahan dalam hierarki dalam hubungan bisa mengguncang kestabilan relasi jika didasarkan hanya pada ketidaksetaraan kekuatan. Inilah risiko besar dari shrekking, di mana posisi dalam hubungan bisa berubah seiring waktu dan menyebabkan ketidakseimbangan.

Melalui berbagai pandangan dari berbagai ahli dan konsultan, shrekking dapat disimpulkan sebagai praktik berpacaran toksik yang sebaiknya dihindari untuk membangun hubungan yang sehat dan berkelanjutan.

Source link