Pada bulan Juli 1995, majalah Time menghadirkan sebuah cerita sampul berjudul “Cyber Porn” yang menampilkan seorang anak lelaki muda dengan wajah tragis yang disinari cahaya biru dari layar komputer. Artikel utamanya menyelidiki dampak negatif pornografi daring terhadap anak-anak. Meskipun upaya untuk melawan pornografi telah dilakukan selama tiga dekade, industri hiburan dewasa diperkirakan tetap bernilai US$58,4 miliar pada tahun 2022 dan diproyeksikan akan meningkat menjadi US$96,2 miliar pada tahun 2032.
Dalam era AI, VR/AR, dan teknologi canggih lainnya, batas antara realitas dan dunia virtual semakin kabur dengan adanya layanan seperti “cyberbrothel” dan taman bermain fantasi. Pornografi semakin sulit untuk ditekan, meskipun kritik terhadap konten dewasa yang sering kali mempropagandakan misogini dan kekerasan tetap sah.
Menurut Kaamna Bhojwani, seorang pengampu podcast yang mengkaji topik seks, teknologi, dan spiritualitas, pendekatan yang lebih efektif dalam mengurangi dampak negatif pornografi adalah dengan mengedukasi tentang potensi positifnya. Studi menunjukkan bahwa jenis konten dewasa yang dicari dan dikonsumsi dapat memberikan wawasan mendalam tentang hasrat yang tidak terungkap secara terbuka dan mencerminkan tren serta pola pikir yang lebih luas.
Konsumsi pornografi ternyata sangat dipengaruhi oleh alasan mengapa seseorang menontonnya. Penggunaan pornografi untuk tujuan mempelajari hal-hal baru dapat membantu mengurangi rasa malu dan stres seksual. Namun, penggunaan pornografi untuk mengatasi masalah atau menghindari realitas dapat meningkatkan risiko perilaku kompulsif dan memengaruhi hubungan intim.
Dalam menghadapi penggambaran seks yang bermasalah dan kekerasan dalam konten dewasa, konsep pornografi etis muncul sebagai solusi yang potensial. Pornografi etis menampilkan konten dewasa yang dibuat secara konsensual, menghormati para pemeran, dan membayar mereka dengan adil atas pekerjaan yang mereka lakukan. Hal ini bertujuan untuk menawarkan perspektif yang lebih luas dan inklusif daripada pornografi tradisional yang seringkali dipandang dari sudut pandang pria.
Melalui pendekatannya yang berfokus pada edukasi, Melissa Kang, seorang professor dari University of Sydney, percaya bahwa mengidentifikasi elemen-elemen pornografi yang mendukung perkembangan seksual yang sehat dapat membantu mengatasi dampak negatif yang mungkin timbul. Bagi banyak remaja, pornografi online telah menjadi sumber pendidikan seks yang tidak resmi.






